Wednesday, January 5, 2011

Petualangan ke Puncak Panderman part#2

Sejenak beristirahat untuk melihat2 keagungan Tuhan, kami pun tak lupa untuk mendokumentasikannya. walaupun hanya menggunakan kamera HP. Dan tak ketinggalan, bernarsis2 ria. Tak terasa hari mulai dikuasai kegelapan. Cahaya mulai menyembunyikan dirinya perlahan2. Terdengar dengan jelas suara adzan yg menandakan waktu magrib. Sebenarnya ingin segera menjalankan kewajiban, namun apa daya. Tetesan2 air langit mulai menghiasi kesunyian malam. Alhamdulillah hujannya tidak deras, kami pun bisa berteduh dipinggir bebatuan yang beratapkan jaket Pras. Jaket Pras memiliki keistimewaan, yakni anti air. Namun sayang, karena ukurannya S hanya cukup untuk menutupi kepala kami. Kami berteduh seperti ayam yg kedinginan. Kami hanya bisa ketewa.

Akhirnya hujan berhenti sebelum adzan isya dikumandangkan. Jadi kami segera salat magrib. Berhubung setelah salat langsung adzan isya maka langsung dilanjutkan salat isya. Kewajiban sudah kami laksanakan, meskipun salatnya hanya berdiri saja. Acara selanjutnya mempersiapkan tempat buat tidur. Karpet dibentangkan didekat bebatuan yang rencanya di jadikan tempat tidur. Ya meskipun sebenarnya karpet hanya cukup untuk 1 orang, kami berusaha bagaimana caranya muat untuk 2 orang. Untungnya disekitar karpet banyak batu2 besar, jadi bisa buat bersandar. Kami mensimulasi beberapa posisi tidur supaya bisa buat berdua. Memang susah sekali menemukan posisi yang nyaman untuk tidur, tetapi kami tidak mengeluh justru kami tertawa, ya sekali lagi tertawa. Tertawa yang kami lakukan.

Kemudian posisi tidur pun disepakati. Waktunya untuk saling curhat. Curhat ini curhat itu, apapun itu, yang penting mampu memberi warna di malam yang sunyi. Hal yang paling saya sukai adalah ketika membicarakan Wira Dharma Ayu, knp? Di WDA lah saya mulai menyukai organisasi. Dapat dikatakan, WDA lah langkah awal saya untuk menemukan jati diri, menemukan persahabatan dan rasa kekeluargaan yang tak terikat hubungan darah. Apabila membecirakan WDA, detak jantung ini berkobar2. Apalagi mengingat perjuangan saat angkatan saya menjabat. Sungguh kenangan2 indah yang takkan terkikis oleh waktu, takkan terhembus oleh angin, dan takkan sirna oleh kilaunya dunia.

Seperti dugaan awal, hujan kembali menunjukkan eksistensinya. Hujan memaksa kami untuk berpikir kreatif. Idepun didapat. Kami mengubah alih fungsi karpet, karpet yang sebelumnya digunakan sebagai alas menjadi atap. Sedikit lucu memang, tak pelak kami pun tertawa terbahak2. Apalagi mengingat bentuk lekukan2 karpet yang membentuk seperti gua. Jadi teringat gua yang pernah kami lalui. Badan kami bersandar ke batu besar sembari duduk. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk tidur lebih cepat dari rencana sebelumnya. Pras tidur seperti orang yang g punya dosa. Tidurnya lelap sekali, padahal kondisi hujan dan posisinya tiduran beralaskan tanah beratapkan karpet. Suara2 hewan pun tak mampu mengembalikannya dari dunia mimpi ke dunia nyata. Berbanding terbalik dengan apa yang dialami saya. Posisi tidur tidak seperti orang biasa pada umumnya. Badan harus disandarkan ke batu yang membuat punggung sakit. Kepala pun berlomba menyakiti saya. Ditambah lagi kepala harus menompang karpet. Kaki yang tidak bisa dikondisikan lurus, menambah daftar anggota badan yang terasa sakit.

Hujan seolah2 menangisi kondisi saya. Hujan tak seperti biasanya. Kadang berhenti, kadang turun lagi. Interval antara berhenti dan turun tidak terlalu juah, maksimal sekitar 30 menit. Hati pun sempat jengkel. Sudah tidak bisa tidur dengan nyaman, badan sakit2, dan hujan tak kunjung usai. Tapi entah kenapa, saya berpikir, nikmati saja. Benar juga apa yang saya pikirkan. Pengalaman ini mungkin hanya sekali dan mungkin hanya dialami oleh saya. Jadi saya mendapatkan sesuatu yang belum tentu orang lain miliki. Cerita malam itu tidak hanya sampai di sini, suara seperti orang tinggi besar ketawa pun saya dengar, terdengar seperti “hoho”. Sontak saya pun menengok kebelakang, tapi ternyata tidak ada siapa2. Saya hanya melihat lambaian dedaunan. Kemudian menyusul suara anjing menggonggong. Hembusan angin menambah mistis suasana malam itu. Hening kembali mengambil alih. Melihat langit sangat mendung membuat hati kecewa, namun terobati oleh pemandangan di bawah. Lampu2 kota berkilau, memancarkan aura kebahagiaan. Seiring memandang kearah kota, saya mendengar suara orang mengobrol. Kebahagian menyelimuti hati saya, karena saya pikir dengan adanya orang lain, banyak keuntungan yang didapat. Minimal ada yang bisa diajak ngobrol. Tetapi harapan itu sirna, karena ternyata tidak siapa2. Hanya tersenyum yang bisa dilakukan. Memang tempat seperti ini adalah habitat mereka, tempat mereka melakukan aktifitasnya, tempat mereka bermain. Kami hanya tamu sedangkan mereka tuan rumah. Sudah sepatutnya tamu harus menghormati tuan rumah.

Mata ini ingin sekali memejamkan mata, membawa ke alam mimpi. Tapi tak kunjung bisa. Hanya bisa berharap malam cepat berlalu. Teringat kenangan di Lembah Cilengkrang, saat itu juga, saya berharap malam cepat berlalu karena udara dingin yang menembus raga. Namun bedanya, saat di Puncak Panderman berharap malam cepat berlalu karena badan terasa sakit, dan hujan tak henti2 menjajah kami. Menjadi saksi tiap detik malam itu, sangat luar biasa. Pengalaman yang sangat berharga. Alhamdulillah, akhirnya suara adzan subuh dikumandangkan. Hati terasa lega. Namun tetap harus menunggu, karena cuaca masih hujan dan kegelapan masih berkuasa. Menengok jam menunjukkan pukul 05.00, Pras terbangun dari tidurnya. Cahaya pagi mulai menampakkan jadi dirinya, walaupun terhalang oleh mendung.

Gerimis masih betah menjajah kami, namun pada akhirnya dia bosan juga. Salat subuh tak lupa kami laksanakan. Kabut mulai bermunculan dan sangat tebal. Pandangan mata terganggu olehnya. Pemandangan disekitar puncak tergelas oleh kabut. Hanya kabut yang terlihat. Pemandangan kota pun tertutupi. Namun sungguh indah sekali kabut2 itu. Kalau dilukiskan seperti uap air dalam panci. Liukan2nya sangat menawan, membuat mata terpaku melihatnya. Seakan2 kami berada di pulau langit. Pemandangan seperti ini lah yang sudah lama tidak saya nikmati. Sungguh kebesaran-Mu tiada tara Ya Rabb. Tak ada yang mampu menyaingi kekuasaaan-Mu.

Sesuai dengan rencana, kami pulang sekitar pukul 06.00. Perjalanan pulang pun tak kalah menariknya. Jalannya yang licin membuat kami sering terpeleset tapi tidak jatuh. Ternyata perjalanan pulang membuat kaki kami sakit. Setelah sampai di jalanan beraspal, ide cemerlang muncul, yakni berjalan mundur. Ide ini sangat efektif. Kaki tidak tterrasa sakit lagi seperti ketika jalan normal. Memang butuh keberanian, terutama keberanian diperhatikan orang.

Alhamdulillah pertolongan Allah SWT datang, sebuah mobil pick up mendatangi kami dan mengajak kami untuk naik mobil itu. Tak lama, akhirnya sampai di gerbang masuk. Bus pun datang. Badan terasa capek sekali, membuat tertidur di bus. Akhirnya kaki menginjakkan kos. Petualangan ini tak kan terlupakan. Pengalaman yang luar biasa. Banyak makna yang terkandung didalamnya. Nikmatnya hidup begitu terasa. Tak bisa diungkapkan dengan kata2, tak bisa dituliskan dengan pena, tak bisa dilukiskan dengan canvas. Hanya hati yang bisa menjawab.
Semoga petualangan seperti ini akan bisa saya nikmati lagi, karena sejarah2 hidup ini akan lebih indah. WHAT THE NEXT ADVENTURE???
Abdul Ghofar

No comments:

Post a Comment