VIVAnews - Rasa jenuh dengan aktivitas sama setiap harinya dapat menimbulkan depresi. Kebosanan ini juga bisa membuat otak Anda merasa 'kurang tertantang'. Jika Anda sering mengalami hal ini, jangan diam saja. Lakukan latihan berikut ini yang bisa membuat Anda seperti memiliki otak 'baru'.
Dorothea Brande, penulis dan editor asal Amerika Serikat yang terkenal dengan bukunya "Wake Up and Live and Becoming a Writer", menyarankan beberapa latihan mental untuk membuat pikiran Anda jadi lebih tajam. Latihan-latihan dimaksudkan untuk menarik Anda keluar dari kebiasaan dan rutinitas, memberikan Anda perspektif berbeda, serta menempatkan Anda dalam situasi yang membutuhkan akal serta kreativitas dalam memecahkan masalah.
Brande percaya, hanya dengan melakukan pengujian dan peregangan sendiri Anda mengembangkan kekuatan mental. Berikut sembilan latihan yang disarankan oleh Brande yang bisa Anda coba, seperti dikutip dari Divine Caroline.
1. Habiskan satu jam setiap harinya dengan tidak berkata apa-apa. Kecuali, untuk menjawab pertanyaan secara langsung, di tengah-tengah kelompok, tanpa menimbulkan kesan bahwa Anda merajuk atau sakit. Cobalah bersikap sebiasa mungkin.
2. Berpikirlan selama 30 menit setiap hari tentang satu subjek. Mulailah dengan berpikir dalam lima menit jika 30 menit terlalu lama.
3. Berbicaralah selama 15 menit per hari tanpa menggunakan kata "Aku", "Saya", dan "Milik saya".
4. Cobalah untuk diam di tengah keramaian
5. Lakukan kontak dengan orang baru dan biarkan ia menceritakan banyak hal soal dirinya tanpa ia menyadari.
6. Ceritakan secara eksklusif tentang diri sendiri dan kesenangan Anda tanpa mengeluh, membual atau membuat bosan teman Anda.
7. Buat rencana selama dua jam per hari dan lakukan rencana itu dengan konsekuen.
8. Buatlah 12 kegiatan yang dilakukan secara acak dan spontan. Misalnya, sepulang mendatangi tempat makan yang belum pernah dikunjungi sebelumnya lalu pulang bukan dengan naik taksi tetapi ojek. Atau, biasanya pada pagi hari Anda minum kopi, minumlah air putih atau jus. Usahakan kegiatan tersebut berbeda dari rutinitas Anda.
9. Dari waktu ke waktu, luangkan setiap harinya menjawab "Ya" untuk setiap permintaan orang lain, tapi tentunya yang masuk akal.
FENOMENAL
blog ini berisi topik-topik yang bermanfaat (insya allah)
Monday, January 10, 2011
Bantu Aku
Bumi..
jagalah langkahku untuk tetap dijalan Tuhanmu
Langit..
awasilah gerak-gerikku untuk tetap dijalan Tuhanmu
Angin..
lindungilah aku dari bisikan kesesatan dari jalan Tuhanmu
Air..
kuatkan hatiku untuk berjuang dijalan Tuhanmu
Rumput..
tunjukkan pada ku arah menuju jalan Tuhanmu
Batu..
halangilah pandanganku dari larangan Tuhanmu
Setiap langkahku..
Setiap denyut jantungku..
Setiap hembusan nafasku..
Ku ingin selalu dijalan Allah SWT..
jagalah langkahku untuk tetap dijalan Tuhanmu
Langit..
awasilah gerak-gerikku untuk tetap dijalan Tuhanmu
Angin..
lindungilah aku dari bisikan kesesatan dari jalan Tuhanmu
Air..
kuatkan hatiku untuk berjuang dijalan Tuhanmu
Rumput..
tunjukkan pada ku arah menuju jalan Tuhanmu
Batu..
halangilah pandanganku dari larangan Tuhanmu
Setiap langkahku..
Setiap denyut jantungku..
Setiap hembusan nafasku..
Ku ingin selalu dijalan Allah SWT..
Thursday, January 6, 2011
Masihkah Kau Setia?
Ketika Raja siang terbit dari persembunyian
Masihkah kau setia menggenggam tanganku
Masihkah kau setia meniupkan harapan padaku
Masihkah kau setia,,
Ketika langit menebarkan benih-benih kehidupan
Masihkah kau setia menjadi tempat persinggahanku
Masihkah kau setia menghangatkan ku
Masihkah kau setia,,
Ketika fajar menguasai angkasa
Masihkah kau setia hingga aku kembali
Masihkah kau setia tuk mendoakan ku
Masihkah kau setia,,
Ketika waktu berganti
Masihkah kau setia memeluk erat tubuhku
Masihkah kau setia membelai rambutku
Masihkah kau setia,,
Setia melindungi ku disetiap tetes darahmu
Setia menyayangi ku disetiap detak jantungmu
Setia mencintai ku disetiap hembusan nafasmu
Abdul Ghofar
Masihkah kau setia menggenggam tanganku
Masihkah kau setia meniupkan harapan padaku
Masihkah kau setia,,
Ketika langit menebarkan benih-benih kehidupan
Masihkah kau setia menjadi tempat persinggahanku
Masihkah kau setia menghangatkan ku
Masihkah kau setia,,
Ketika fajar menguasai angkasa
Masihkah kau setia hingga aku kembali
Masihkah kau setia tuk mendoakan ku
Masihkah kau setia,,
Ketika waktu berganti
Masihkah kau setia memeluk erat tubuhku
Masihkah kau setia membelai rambutku
Masihkah kau setia,,
Setia melindungi ku disetiap tetes darahmu
Setia menyayangi ku disetiap detak jantungmu
Setia mencintai ku disetiap hembusan nafasmu
Abdul Ghofar
Wednesday, January 5, 2011
Petualangan ke Puncak Panderman part#2
Sejenak beristirahat untuk melihat2 keagungan Tuhan, kami pun tak lupa untuk mendokumentasikannya. walaupun hanya menggunakan kamera HP. Dan tak ketinggalan, bernarsis2 ria. Tak terasa hari mulai dikuasai kegelapan. Cahaya mulai menyembunyikan dirinya perlahan2. Terdengar dengan jelas suara adzan yg menandakan waktu magrib. Sebenarnya ingin segera menjalankan kewajiban, namun apa daya. Tetesan2 air langit mulai menghiasi kesunyian malam. Alhamdulillah hujannya tidak deras, kami pun bisa berteduh dipinggir bebatuan yang beratapkan jaket Pras. Jaket Pras memiliki keistimewaan, yakni anti air. Namun sayang, karena ukurannya S hanya cukup untuk menutupi kepala kami. Kami berteduh seperti ayam yg kedinginan. Kami hanya bisa ketewa.
Akhirnya hujan berhenti sebelum adzan isya dikumandangkan. Jadi kami segera salat magrib. Berhubung setelah salat langsung adzan isya maka langsung dilanjutkan salat isya. Kewajiban sudah kami laksanakan, meskipun salatnya hanya berdiri saja. Acara selanjutnya mempersiapkan tempat buat tidur. Karpet dibentangkan didekat bebatuan yang rencanya di jadikan tempat tidur. Ya meskipun sebenarnya karpet hanya cukup untuk 1 orang, kami berusaha bagaimana caranya muat untuk 2 orang. Untungnya disekitar karpet banyak batu2 besar, jadi bisa buat bersandar. Kami mensimulasi beberapa posisi tidur supaya bisa buat berdua. Memang susah sekali menemukan posisi yang nyaman untuk tidur, tetapi kami tidak mengeluh justru kami tertawa, ya sekali lagi tertawa. Tertawa yang kami lakukan.
Kemudian posisi tidur pun disepakati. Waktunya untuk saling curhat. Curhat ini curhat itu, apapun itu, yang penting mampu memberi warna di malam yang sunyi. Hal yang paling saya sukai adalah ketika membicarakan Wira Dharma Ayu, knp? Di WDA lah saya mulai menyukai organisasi. Dapat dikatakan, WDA lah langkah awal saya untuk menemukan jati diri, menemukan persahabatan dan rasa kekeluargaan yang tak terikat hubungan darah. Apabila membecirakan WDA, detak jantung ini berkobar2. Apalagi mengingat perjuangan saat angkatan saya menjabat. Sungguh kenangan2 indah yang takkan terkikis oleh waktu, takkan terhembus oleh angin, dan takkan sirna oleh kilaunya dunia.
Seperti dugaan awal, hujan kembali menunjukkan eksistensinya. Hujan memaksa kami untuk berpikir kreatif. Idepun didapat. Kami mengubah alih fungsi karpet, karpet yang sebelumnya digunakan sebagai alas menjadi atap. Sedikit lucu memang, tak pelak kami pun tertawa terbahak2. Apalagi mengingat bentuk lekukan2 karpet yang membentuk seperti gua. Jadi teringat gua yang pernah kami lalui. Badan kami bersandar ke batu besar sembari duduk. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk tidur lebih cepat dari rencana sebelumnya. Pras tidur seperti orang yang g punya dosa. Tidurnya lelap sekali, padahal kondisi hujan dan posisinya tiduran beralaskan tanah beratapkan karpet. Suara2 hewan pun tak mampu mengembalikannya dari dunia mimpi ke dunia nyata. Berbanding terbalik dengan apa yang dialami saya. Posisi tidur tidak seperti orang biasa pada umumnya. Badan harus disandarkan ke batu yang membuat punggung sakit. Kepala pun berlomba menyakiti saya. Ditambah lagi kepala harus menompang karpet. Kaki yang tidak bisa dikondisikan lurus, menambah daftar anggota badan yang terasa sakit.
Hujan seolah2 menangisi kondisi saya. Hujan tak seperti biasanya. Kadang berhenti, kadang turun lagi. Interval antara berhenti dan turun tidak terlalu juah, maksimal sekitar 30 menit. Hati pun sempat jengkel. Sudah tidak bisa tidur dengan nyaman, badan sakit2, dan hujan tak kunjung usai. Tapi entah kenapa, saya berpikir, nikmati saja. Benar juga apa yang saya pikirkan. Pengalaman ini mungkin hanya sekali dan mungkin hanya dialami oleh saya. Jadi saya mendapatkan sesuatu yang belum tentu orang lain miliki. Cerita malam itu tidak hanya sampai di sini, suara seperti orang tinggi besar ketawa pun saya dengar, terdengar seperti “hoho”. Sontak saya pun menengok kebelakang, tapi ternyata tidak ada siapa2. Saya hanya melihat lambaian dedaunan. Kemudian menyusul suara anjing menggonggong. Hembusan angin menambah mistis suasana malam itu. Hening kembali mengambil alih. Melihat langit sangat mendung membuat hati kecewa, namun terobati oleh pemandangan di bawah. Lampu2 kota berkilau, memancarkan aura kebahagiaan. Seiring memandang kearah kota, saya mendengar suara orang mengobrol. Kebahagian menyelimuti hati saya, karena saya pikir dengan adanya orang lain, banyak keuntungan yang didapat. Minimal ada yang bisa diajak ngobrol. Tetapi harapan itu sirna, karena ternyata tidak siapa2. Hanya tersenyum yang bisa dilakukan. Memang tempat seperti ini adalah habitat mereka, tempat mereka melakukan aktifitasnya, tempat mereka bermain. Kami hanya tamu sedangkan mereka tuan rumah. Sudah sepatutnya tamu harus menghormati tuan rumah.
Mata ini ingin sekali memejamkan mata, membawa ke alam mimpi. Tapi tak kunjung bisa. Hanya bisa berharap malam cepat berlalu. Teringat kenangan di Lembah Cilengkrang, saat itu juga, saya berharap malam cepat berlalu karena udara dingin yang menembus raga. Namun bedanya, saat di Puncak Panderman berharap malam cepat berlalu karena badan terasa sakit, dan hujan tak henti2 menjajah kami. Menjadi saksi tiap detik malam itu, sangat luar biasa. Pengalaman yang sangat berharga. Alhamdulillah, akhirnya suara adzan subuh dikumandangkan. Hati terasa lega. Namun tetap harus menunggu, karena cuaca masih hujan dan kegelapan masih berkuasa. Menengok jam menunjukkan pukul 05.00, Pras terbangun dari tidurnya. Cahaya pagi mulai menampakkan jadi dirinya, walaupun terhalang oleh mendung.
Gerimis masih betah menjajah kami, namun pada akhirnya dia bosan juga. Salat subuh tak lupa kami laksanakan. Kabut mulai bermunculan dan sangat tebal. Pandangan mata terganggu olehnya. Pemandangan disekitar puncak tergelas oleh kabut. Hanya kabut yang terlihat. Pemandangan kota pun tertutupi. Namun sungguh indah sekali kabut2 itu. Kalau dilukiskan seperti uap air dalam panci. Liukan2nya sangat menawan, membuat mata terpaku melihatnya. Seakan2 kami berada di pulau langit. Pemandangan seperti ini lah yang sudah lama tidak saya nikmati. Sungguh kebesaran-Mu tiada tara Ya Rabb. Tak ada yang mampu menyaingi kekuasaaan-Mu.
Sesuai dengan rencana, kami pulang sekitar pukul 06.00. Perjalanan pulang pun tak kalah menariknya. Jalannya yang licin membuat kami sering terpeleset tapi tidak jatuh. Ternyata perjalanan pulang membuat kaki kami sakit. Setelah sampai di jalanan beraspal, ide cemerlang muncul, yakni berjalan mundur. Ide ini sangat efektif. Kaki tidak tterrasa sakit lagi seperti ketika jalan normal. Memang butuh keberanian, terutama keberanian diperhatikan orang.
Alhamdulillah pertolongan Allah SWT datang, sebuah mobil pick up mendatangi kami dan mengajak kami untuk naik mobil itu. Tak lama, akhirnya sampai di gerbang masuk. Bus pun datang. Badan terasa capek sekali, membuat tertidur di bus. Akhirnya kaki menginjakkan kos. Petualangan ini tak kan terlupakan. Pengalaman yang luar biasa. Banyak makna yang terkandung didalamnya. Nikmatnya hidup begitu terasa. Tak bisa diungkapkan dengan kata2, tak bisa dituliskan dengan pena, tak bisa dilukiskan dengan canvas. Hanya hati yang bisa menjawab.
Semoga petualangan seperti ini akan bisa saya nikmati lagi, karena sejarah2 hidup ini akan lebih indah. WHAT THE NEXT ADVENTURE???
Abdul Ghofar
Akhirnya hujan berhenti sebelum adzan isya dikumandangkan. Jadi kami segera salat magrib. Berhubung setelah salat langsung adzan isya maka langsung dilanjutkan salat isya. Kewajiban sudah kami laksanakan, meskipun salatnya hanya berdiri saja. Acara selanjutnya mempersiapkan tempat buat tidur. Karpet dibentangkan didekat bebatuan yang rencanya di jadikan tempat tidur. Ya meskipun sebenarnya karpet hanya cukup untuk 1 orang, kami berusaha bagaimana caranya muat untuk 2 orang. Untungnya disekitar karpet banyak batu2 besar, jadi bisa buat bersandar. Kami mensimulasi beberapa posisi tidur supaya bisa buat berdua. Memang susah sekali menemukan posisi yang nyaman untuk tidur, tetapi kami tidak mengeluh justru kami tertawa, ya sekali lagi tertawa. Tertawa yang kami lakukan.
Kemudian posisi tidur pun disepakati. Waktunya untuk saling curhat. Curhat ini curhat itu, apapun itu, yang penting mampu memberi warna di malam yang sunyi. Hal yang paling saya sukai adalah ketika membicarakan Wira Dharma Ayu, knp? Di WDA lah saya mulai menyukai organisasi. Dapat dikatakan, WDA lah langkah awal saya untuk menemukan jati diri, menemukan persahabatan dan rasa kekeluargaan yang tak terikat hubungan darah. Apabila membecirakan WDA, detak jantung ini berkobar2. Apalagi mengingat perjuangan saat angkatan saya menjabat. Sungguh kenangan2 indah yang takkan terkikis oleh waktu, takkan terhembus oleh angin, dan takkan sirna oleh kilaunya dunia.
Seperti dugaan awal, hujan kembali menunjukkan eksistensinya. Hujan memaksa kami untuk berpikir kreatif. Idepun didapat. Kami mengubah alih fungsi karpet, karpet yang sebelumnya digunakan sebagai alas menjadi atap. Sedikit lucu memang, tak pelak kami pun tertawa terbahak2. Apalagi mengingat bentuk lekukan2 karpet yang membentuk seperti gua. Jadi teringat gua yang pernah kami lalui. Badan kami bersandar ke batu besar sembari duduk. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk tidur lebih cepat dari rencana sebelumnya. Pras tidur seperti orang yang g punya dosa. Tidurnya lelap sekali, padahal kondisi hujan dan posisinya tiduran beralaskan tanah beratapkan karpet. Suara2 hewan pun tak mampu mengembalikannya dari dunia mimpi ke dunia nyata. Berbanding terbalik dengan apa yang dialami saya. Posisi tidur tidak seperti orang biasa pada umumnya. Badan harus disandarkan ke batu yang membuat punggung sakit. Kepala pun berlomba menyakiti saya. Ditambah lagi kepala harus menompang karpet. Kaki yang tidak bisa dikondisikan lurus, menambah daftar anggota badan yang terasa sakit.
Hujan seolah2 menangisi kondisi saya. Hujan tak seperti biasanya. Kadang berhenti, kadang turun lagi. Interval antara berhenti dan turun tidak terlalu juah, maksimal sekitar 30 menit. Hati pun sempat jengkel. Sudah tidak bisa tidur dengan nyaman, badan sakit2, dan hujan tak kunjung usai. Tapi entah kenapa, saya berpikir, nikmati saja. Benar juga apa yang saya pikirkan. Pengalaman ini mungkin hanya sekali dan mungkin hanya dialami oleh saya. Jadi saya mendapatkan sesuatu yang belum tentu orang lain miliki. Cerita malam itu tidak hanya sampai di sini, suara seperti orang tinggi besar ketawa pun saya dengar, terdengar seperti “hoho”. Sontak saya pun menengok kebelakang, tapi ternyata tidak ada siapa2. Saya hanya melihat lambaian dedaunan. Kemudian menyusul suara anjing menggonggong. Hembusan angin menambah mistis suasana malam itu. Hening kembali mengambil alih. Melihat langit sangat mendung membuat hati kecewa, namun terobati oleh pemandangan di bawah. Lampu2 kota berkilau, memancarkan aura kebahagiaan. Seiring memandang kearah kota, saya mendengar suara orang mengobrol. Kebahagian menyelimuti hati saya, karena saya pikir dengan adanya orang lain, banyak keuntungan yang didapat. Minimal ada yang bisa diajak ngobrol. Tetapi harapan itu sirna, karena ternyata tidak siapa2. Hanya tersenyum yang bisa dilakukan. Memang tempat seperti ini adalah habitat mereka, tempat mereka melakukan aktifitasnya, tempat mereka bermain. Kami hanya tamu sedangkan mereka tuan rumah. Sudah sepatutnya tamu harus menghormati tuan rumah.
Mata ini ingin sekali memejamkan mata, membawa ke alam mimpi. Tapi tak kunjung bisa. Hanya bisa berharap malam cepat berlalu. Teringat kenangan di Lembah Cilengkrang, saat itu juga, saya berharap malam cepat berlalu karena udara dingin yang menembus raga. Namun bedanya, saat di Puncak Panderman berharap malam cepat berlalu karena badan terasa sakit, dan hujan tak henti2 menjajah kami. Menjadi saksi tiap detik malam itu, sangat luar biasa. Pengalaman yang sangat berharga. Alhamdulillah, akhirnya suara adzan subuh dikumandangkan. Hati terasa lega. Namun tetap harus menunggu, karena cuaca masih hujan dan kegelapan masih berkuasa. Menengok jam menunjukkan pukul 05.00, Pras terbangun dari tidurnya. Cahaya pagi mulai menampakkan jadi dirinya, walaupun terhalang oleh mendung.
Gerimis masih betah menjajah kami, namun pada akhirnya dia bosan juga. Salat subuh tak lupa kami laksanakan. Kabut mulai bermunculan dan sangat tebal. Pandangan mata terganggu olehnya. Pemandangan disekitar puncak tergelas oleh kabut. Hanya kabut yang terlihat. Pemandangan kota pun tertutupi. Namun sungguh indah sekali kabut2 itu. Kalau dilukiskan seperti uap air dalam panci. Liukan2nya sangat menawan, membuat mata terpaku melihatnya. Seakan2 kami berada di pulau langit. Pemandangan seperti ini lah yang sudah lama tidak saya nikmati. Sungguh kebesaran-Mu tiada tara Ya Rabb. Tak ada yang mampu menyaingi kekuasaaan-Mu.
Sesuai dengan rencana, kami pulang sekitar pukul 06.00. Perjalanan pulang pun tak kalah menariknya. Jalannya yang licin membuat kami sering terpeleset tapi tidak jatuh. Ternyata perjalanan pulang membuat kaki kami sakit. Setelah sampai di jalanan beraspal, ide cemerlang muncul, yakni berjalan mundur. Ide ini sangat efektif. Kaki tidak tterrasa sakit lagi seperti ketika jalan normal. Memang butuh keberanian, terutama keberanian diperhatikan orang.
Alhamdulillah pertolongan Allah SWT datang, sebuah mobil pick up mendatangi kami dan mengajak kami untuk naik mobil itu. Tak lama, akhirnya sampai di gerbang masuk. Bus pun datang. Badan terasa capek sekali, membuat tertidur di bus. Akhirnya kaki menginjakkan kos. Petualangan ini tak kan terlupakan. Pengalaman yang luar biasa. Banyak makna yang terkandung didalamnya. Nikmatnya hidup begitu terasa. Tak bisa diungkapkan dengan kata2, tak bisa dituliskan dengan pena, tak bisa dilukiskan dengan canvas. Hanya hati yang bisa menjawab.
Semoga petualangan seperti ini akan bisa saya nikmati lagi, karena sejarah2 hidup ini akan lebih indah. WHAT THE NEXT ADVENTURE???
Abdul Ghofar
Sunday, January 2, 2011
Petualangan ke Puncak Panderman part#1
Tanggal 30 Desember 2010 perjalanan menuju puncak Panderman diawali dengan memastikan berapa orang yang akan ikut ke Panderman. Ternyata hanya saya dan sahabat saya, pras namanya. Iya, hanya 2 orang. Mungkin sebagian orang menggangap kami gila, mungkin juga orang bodoh. Apalagi kami tidak ada persiapan yang matang. Peralatan yang dibawa pisau, tikar, sleeping bag (untuk 1 orang), dan korek api (untuk merokok). Makanan hanya membawa 2 roti dan 4 mie, serta air mineral 3,1 liter dan air panas 750 ml. Tak lupa, kami pun membawa baju ganti. Mungkin terdengar aneh, karena kami tidak membawa tenda atau jas hujan, padahal kondisi cuaca sering hujan. Ya itulah kami, bukan orang manja, yang harus ada ini ada itu.
Tepat pukul 13.00 kami berangkat dari kos saya. Diperjalanan, sempat terlintas dipikiran,”bodoh sekali saya ini, hanya berdua ke tempat yang belum pernah dikunjungi apalagi tidak ada persiapan”. Tapi itu hanya pikiran2 sampah, yang harus dibuang jauh2. Karena saya harus fokus pada tujuan awal, yakni mencari ketenangan, ketentraman hati, dan melihat kebesaran Allah SWT, serta mengukir sejarah dalam hidup saya, mungkin lebih tepatnya kenangan2 manis. Tak disangka perjalanan ke Panderman begitu sulit, tapi bukan karena tidak tahu tempatnya, bukan karena hanya berdua, bukan juga karena perlengkapan yang minim, akan tetapi karena medan yang dilalui. Ya kemiringan jalan yang kami lewati lebih dari 35 derajat. Terutama di jalan2 pedesaan yang sudah beraspal. Butuh berjuangan ekstra. Seluruh badan pun ditemani keringat2 yang membiaskan diri kami nampak habis mandi. Sempat beberapa kali kami berhenti hanya untuk mengambil nafas dan minum. Jalan itu tidak hanya berhasil membuat kaki kami sakit namun berhasil membuat pras terasa mual bahkan saya pun terbungkam dibuatnya. Seandainya jalan bisa tertawa, dia pasti menertawakan perjuangan kami. Akhirnya kami menemukan masjid, kami pun bisa istirahat sembari salat dan makan baso. Tak terasa satu jam lebih kami beristirahat, tentunya istirahat yang diselingi dengan intermeso waktu SMA, memori2 indah yang terlukis kembali oleh kata2. Namun sayang, terpotong oleh waktu yang mengharuskan kami melanjutkan perjalanan.
Diperjalanan kami mampir sejenak ke warung untuk membeli rokok dan coklat. Kenapa mesti rokok dan coklat? Ya, coklat untuk menambah tenaga dan rokok menghangatkan tubuh, terutama saat malam setia menemani. Ternyata jalan menuju puncak ada sebuah gua, saya rasa gua itu buatan manusia, karena dapat dilihat dari pintunya. Pras minta untuk menghentikan perjalanan sejenak tepat di depan pintu gua tersebut, kami pun mempunyai ide untuk bermalam di gua, namun setelah dipikir2 lebih baik melanjutkan perjalanan karena dirasa puncak Panderman sudah dekat. Suara motor gunung, suara yang melahap keheningan mengiringi tiap langkah kami. Suara2 itu berlomba2 menemukan keharmonisannya. Ada persimpangan jalan, kami memutuskan untuk berpencar. Ada kekhawatiran di hati, kalau2 terjadi sesuatu yang tak diinginkan, karena kami hanya berdua. Suasana pun seolah2 mendukung hal itu, sunyi, sepi dan keheningan berfusi sempurna.
Akhirnya kami menginjakkan kaki di puncak. Meskipun ada sedikit kejutan di puncak, tapi saya pribadi tidak menghiraukan. Karena ada yang lebih indah dan mempesona hati, yaitu keharmonisan alam. Lambaian rumput2 hijau menyambut hangat kedatangan kami, pohon2 menari riang gembira, angin pun menyanyikan lagu2 melo, dan tak mau kalah, jangkrik dan katak pun berduet mengeluarkan suara2 indahnya. Rumput2 hijau, pohon2, angin, serta jangkrik dan katak, mereka berkolaborasi sangat sempurna. Semua itu disiapkan untuk menyambut kedatangan kami. Hati saya terasa nyaman dan tentram, senyum pun mengembang di wajah saya. Senyuman terindah, senyuman yang tak pernah saya tunjukkan di hadapan orang2.
Bersambung...
Monday, December 20, 2010
Wow, Anjing Jerman Ini Melahirkan 17 Anak
Foto: AP
BERLIN - Seekor anjing di Jerman melahirkan 17 anak sekaligus. Sang Induk pun keletihan setelah menyusui seluruh anaknya.
Pemilik anjing, Ramona Wegemann, mengatakan dia hampir tidak tidur karena selalu terganggu beberapa pekan ini. Dia juga kelelahan karena berjuang agar seluruh anak-anak anjing peranakan Rhodesian Ridgeback ini bisa bertahan.
Menurut Wagemann, saat induk memberikan susu kepada anjing terakhir, anjing yang pertama kembali lapar.
Anjing Wegemann, Etana, melahirkan delapan betina dan sembilan jantan pada 28 September di Ebereschenhof, dekat Berlin.
Setidaknya dalam sehari dia menyusui sebanyak lima kali. Sekalipun mereka tidak lapar, anjing tersebut butuh dihibur sang induk.
"Kelahiran anjing ini sangat spesial. Semuanya lahir secara natural, jadi tidak melakukan cesar," ujarnya.
Etana menghabiskan waktu selama 26 jam untuk melahirkan semua anaknya. Demikian lansir Associated Press, Selasa (21/12/2010).
Wegemann memberi nama Afrika untuk anjing-anjing miliknya, karena anjing tersebut merupakan anjing pemburu Afrika.
Meski demikian Wegemann akan menjual sebagian anak anjingnya. Ini untuk membantu mendapat uang dan menutupi pengeluaran untuk anjing-anjing tersebut.
Dia berharap mendapatkan sekira Rp14 juta per anjing, tapi dia hanya akan memberikan anjing tersebut kepada keluarga yang memiliki anak, bukan peternak anjing.
(rhs)
Ribuan Anak Memilih Hidup di Jalanan
JAKARTA, KOMPAS.com — Rumah belum menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak Indonesia. Ribuan anak terpaksa lari dari rumah dan hidup di jalanan karena mengalami kekerasan fisik hingga seksual.
Setiap hari pada kurun waktu 2010 Komisi Nasional Perlindungan Anak menerima laporan aduan kasus kekerasan seksual. Sebagian besar korban adalah anak perempuan rentang usia 6 hingga 15 tahun. "Terselip satu kasus di mana korbannya masih berumur di bawah 1 tahun," kata Sekretaris Jenderal Komnas PA Samsul Ridwan di Jakarta, Selasa (21/12/2010).
Karena tidak kuat diperlakukan secara kasar di rumah, banyak anak memilih kabur kemudian tinggal di jalanan. Dari pendataan nasional tahun 2010 terhadap 240.000 anak jalanan di 12 kota besar di Indonesia, kira-kira 5-7 persen (12.000-16.800 anak) mengaku lari dari rumah karena kekerasan dalam rumah tangga.
Data International Labour Organization (ILO) tahun 2010 memperlihatkan angka yang mencengangkan. Lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani isu perburuhan telah menemukan sekitar 8 juta pekerja di Indonesia yang usianya di bawah 15 tahun.
"Mereka justru kerja di sektor terlarang bagi seorang anak, seperti industri perikanan (sebagai penjaga jermal atau usaha tangkap ikan di lepas pantai), pertambangan, konstruksi, transportasi, dan industri kimia," tutur Samsul.
Setiap hari pada kurun waktu 2010 Komisi Nasional Perlindungan Anak menerima laporan aduan kasus kekerasan seksual. Sebagian besar korban adalah anak perempuan rentang usia 6 hingga 15 tahun. "Terselip satu kasus di mana korbannya masih berumur di bawah 1 tahun," kata Sekretaris Jenderal Komnas PA Samsul Ridwan di Jakarta, Selasa (21/12/2010).
Karena tidak kuat diperlakukan secara kasar di rumah, banyak anak memilih kabur kemudian tinggal di jalanan. Dari pendataan nasional tahun 2010 terhadap 240.000 anak jalanan di 12 kota besar di Indonesia, kira-kira 5-7 persen (12.000-16.800 anak) mengaku lari dari rumah karena kekerasan dalam rumah tangga.
Data International Labour Organization (ILO) tahun 2010 memperlihatkan angka yang mencengangkan. Lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani isu perburuhan telah menemukan sekitar 8 juta pekerja di Indonesia yang usianya di bawah 15 tahun.
"Mereka justru kerja di sektor terlarang bagi seorang anak, seperti industri perikanan (sebagai penjaga jermal atau usaha tangkap ikan di lepas pantai), pertambangan, konstruksi, transportasi, dan industri kimia," tutur Samsul.
Subscribe to:
Comments (Atom)