Sunday, January 2, 2011

Petualangan ke Puncak Panderman part#1


Tanggal 30 Desember 2010 perjalanan menuju puncak Panderman diawali dengan memastikan berapa orang yang akan ikut ke Panderman. Ternyata hanya saya dan sahabat saya, pras namanya. Iya, hanya 2 orang. Mungkin sebagian orang menggangap kami gila, mungkin juga orang bodoh. Apalagi kami tidak ada persiapan yang matang. Peralatan yang dibawa pisau, tikar, sleeping bag (untuk 1 orang), dan korek api (untuk merokok). Makanan hanya membawa 2 roti dan 4 mie, serta air mineral 3,1 liter dan air panas 750 ml. Tak lupa, kami pun membawa baju ganti. Mungkin terdengar aneh, karena kami tidak membawa tenda atau jas hujan, padahal kondisi cuaca sering hujan. Ya itulah kami, bukan orang manja, yang harus ada ini ada itu.
Tepat pukul 13.00 kami berangkat dari kos saya. Diperjalanan, sempat terlintas dipikiran,”bodoh sekali saya ini, hanya berdua ke tempat yang belum pernah dikunjungi apalagi tidak ada persiapan”. Tapi itu hanya pikiran2 sampah, yang harus dibuang jauh2. Karena saya harus fokus pada tujuan awal, yakni mencari ketenangan, ketentraman hati, dan melihat kebesaran Allah SWT, serta mengukir sejarah dalam hidup saya, mungkin lebih tepatnya kenangan2 manis. Tak disangka perjalanan ke Panderman begitu sulit, tapi bukan karena tidak tahu tempatnya, bukan karena hanya berdua, bukan juga karena perlengkapan yang minim, akan tetapi karena medan yang dilalui. Ya kemiringan jalan yang kami lewati lebih dari 35 derajat. Terutama di jalan2 pedesaan yang sudah beraspal. Butuh berjuangan ekstra. Seluruh badan pun ditemani keringat2 yang membiaskan diri kami nampak habis mandi. Sempat beberapa kali kami berhenti hanya untuk mengambil nafas dan minum. Jalan itu tidak hanya berhasil membuat kaki kami sakit namun berhasil membuat pras terasa mual bahkan saya pun terbungkam dibuatnya. Seandainya jalan bisa tertawa, dia pasti menertawakan perjuangan kami. Akhirnya kami menemukan masjid, kami pun bisa istirahat sembari salat dan makan baso. Tak terasa satu jam lebih kami beristirahat, tentunya istirahat yang diselingi dengan intermeso waktu SMA, memori2 indah yang terlukis kembali oleh kata2. Namun sayang, terpotong oleh waktu yang mengharuskan kami melanjutkan perjalanan.
Diperjalanan kami mampir sejenak ke warung untuk membeli rokok dan coklat. Kenapa mesti rokok dan coklat? Ya, coklat untuk menambah tenaga dan rokok menghangatkan tubuh, terutama saat malam setia menemani. Ternyata jalan menuju puncak ada sebuah gua, saya rasa gua itu buatan manusia, karena dapat dilihat dari pintunya. Pras minta untuk menghentikan perjalanan sejenak tepat di depan pintu gua tersebut, kami pun mempunyai ide untuk bermalam di gua, namun setelah dipikir2 lebih baik melanjutkan perjalanan karena dirasa puncak Panderman sudah dekat. Suara motor gunung, suara yang melahap keheningan mengiringi tiap langkah kami. Suara2 itu berlomba2 menemukan keharmonisannya. Ada persimpangan jalan, kami memutuskan untuk berpencar. Ada kekhawatiran di hati, kalau2 terjadi sesuatu yang tak diinginkan, karena kami hanya berdua. Suasana pun seolah2 mendukung hal itu, sunyi, sepi dan keheningan berfusi sempurna.
Akhirnya kami menginjakkan kaki di puncak. Meskipun ada sedikit kejutan di puncak, tapi saya pribadi tidak menghiraukan. Karena ada yang lebih indah dan mempesona hati, yaitu keharmonisan alam. Lambaian rumput2 hijau menyambut hangat kedatangan kami, pohon2 menari riang gembira, angin pun menyanyikan lagu2 melo, dan tak mau kalah, jangkrik dan katak pun berduet mengeluarkan suara2 indahnya. Rumput2 hijau, pohon2, angin, serta jangkrik dan katak, mereka berkolaborasi sangat sempurna. Semua itu disiapkan untuk menyambut kedatangan kami.  Hati saya terasa nyaman dan tentram, senyum pun mengembang di wajah saya. Senyuman terindah, senyuman yang tak pernah saya tunjukkan di hadapan orang2.
Bersambung...

No comments:

Post a Comment